NEWS PULIH SEKETIKA - Pagi itu saya berdiri di lereng yang diselimuti kabut tipis. Udara dingin menyentuh kulit, tapi ada sesuatu yang hangat menyambut saya: aroma kopi yang baru dipetik. Di sinilah saya bertemu dengan Lasmini, perempuan 52 tahun, petani kopi dari wilayah perbukitan di Magelang.
Program ini saya beri nama “HALO APA KABAR KAMU?” karena saya percaya, setiap orang menyimpan cerita luar biasa—asal kita mau berhenti sebentar dan benar-benar bertanya.
Hari itu, saya bertanya pada Lasmini,
“Bu, apa kabar?”
Ia tersenyum. Senyum yang tidak dibuat-buat. Senyum yang lahir dari seseorang yang sudah terlalu akrab dengan kerasnya hidup.
“Alhamdulillah, Mas. Masih diberi napas, masih bisa metik kopi.”
Dan dari jawaban sederhana itu, saya tahu—kisah ini tidak akan biasa.
Perempuan yang Tidak Pernah Merencanakan Jadi Petani Kopi
Lasmini tidak pernah bercita-cita menjadi petani kopi. Dulu, ia hanya mengikuti suaminya menggarap lahan kecil warisan keluarga. Kopi bukan pilihan romantis. Kopi adalah pilihan realistis.
Di lereng-lereng Magelang, tanahnya subur. Namun subur bukan berarti mudah. Hujan bisa terlalu deras. Panas bisa terlalu panjang. Harga bisa naik turun seperti perasaan manusia yang tidak stabil.
“Saya ini cuma lulusan SD, Mas,” katanya pelan.
“Tapi hidup ngajarin saya lebih banyak dari sekolah.”
Kalimat itu menampar saya dalam diam.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar gelar, lupa bahwa kehidupan punya kurikulum sendiri. Lasmini belajar tentang kesabaran dari musim yang tak menentu. Ia belajar tentang keikhlasan dari buah kopi yang tidak selalu panen sempurna.
Bangun Sebelum Matahari, Pulang Setelah Lelah
Rutinitasnya sederhana, tapi berat.
Jam 4 pagi ia sudah bangun. Menyiapkan air panas, memasak nasi, lalu berangkat ke kebun ketika langit masih gelap. Jalannya menanjak. Tanahnya licin kalau hujan turun semalam.
“Kalau capek?” tanya saya.
Ia tertawa kecil.
“Capek itu biasa, Mas. Yang tidak biasa itu kalau tidak punya harapan.”
Saya terdiam.
Di kebunnya, Lasmini memetik satu per satu buah kopi merah yang matang. Tidak bisa sembarangan. Kalau terlalu muda, rasanya asam. Kalau terlalu tua, kualitas turun. Ketelitian adalah harga mati.
Tangan Lasmini kasar. Kulitnya menghitam terbakar matahari. Tapi di matanya ada cahaya yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Harga Kopi dan Harga Diri
Salah satu hal paling berat bagi petani kecil adalah ketidakpastian harga.
Ketika harga bagus, senyum mengembang. Ketika harga turun, mereka tetap harus makan. Tidak ada pilihan berhenti.
“Kadang sedih, Mas. Kita rawat setahun penuh, tapi harga ditentukan orang kota.”
Ia tidak marah. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Hanya ada nada pasrah yang dewasa.
Di situlah saya belajar sesuatu: harga kopi bisa berubah-ubah, tapi harga diri tidak boleh ikut jatuh.
Lasmini tetap merawat kebunnya dengan sungguh-sungguh, meski tahu hasilnya belum tentu sebanding dengan tenaga. Ia percaya, bekerja dengan baik adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri.
Kopi yang Menyatukan Keluarga
Lasmini memiliki tiga anak. Dua sudah bekerja di luar kota. Satu masih membantu di rumah.
Ia tidak pernah memaksa anak-anaknya menjadi petani.
“Kalau mau lanjutkan kebun, saya senang. Kalau mau kerja lain, saya juga senang.”
Tidak ada ambisi memaksa. Tidak ada ego orang tua.
Namun setiap kali panen raya tiba, anak-anaknya pulang. Kebun menjadi tempat reuni. Tawa kembali terdengar di antara pohon kopi.
“Saya paling bahagia kalau mereka pulang,” katanya.
Saya melihat bagaimana kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah pengikat keluarga. Ia adalah alasan untuk kembali.
Perempuan 52 Tahun yang Masih Punya Mimpi
Usia 52 tahun bagi sebagian orang mungkin identik dengan “sudah lewat masa”. Tapi tidak untuk Lasmini.
Ia punya mimpi sederhana: ingin punya alat pengolahan kopi sendiri agar tidak selalu menjual dalam bentuk gelondongan.
“Kalau bisa sangrai sendiri, mungkin harganya lebih baik,” katanya penuh harap.
Mimpi itu tidak terdengar mewah. Tapi bagi petani kecil, itu adalah lompatan besar.
Saya melihat bagaimana perempuan ini tidak berhenti bermimpi. Ia tidak pernah berkata, “Sudahlah, saya sudah tua.”
Ia justru berkata, “Selama masih kuat jalan ke kebun, saya masih punya harapan.”
Di Balik Secangkir Kopi yang Kita Minum
Saya pulang dari kebun Lasmini dengan pikiran penuh.
Berapa kali kita minum kopi tanpa berpikir dari mana asalnya? Berapa kali kita mengeluh soal rasa, tanpa tahu tangan siapa yang memetiknya?
Di balik secangkir kopi pagi kita, ada punggung yang pegal. Ada tangan yang lecet. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan agar harga tidak jatuh.
Lasmini mengajarkan saya bahwa kopi bukan sekadar rasa pahit dan aroma nikmat. Kopi adalah cerita tentang ketekunan.
Ketika Hujan Terlalu Deras dan Hidup Terasa Berat
Lasmini pernah gagal panen. Hujan terlalu deras, banyak buah rontok sebelum sempat dipetik.
“Waktu itu saya nangis, Mas,” akunya jujur.
Tangisnya bukan karena lemah. Tapi karena ia manusia.
Namun esoknya, ia tetap ke kebun.
“Kalau saya berhenti, siapa lagi yang rawat?”
Di titik itu saya sadar: keberanian bukan berarti tidak pernah menangis. Keberanian adalah tetap melangkah setelah menangis.
Saya, Lasmini, dan Pelajaran tentang Kesederhanaan
Sebagai musisi, saya sering berdiri di panggung. Lampu sorot, tepuk tangan, gemuruh suara. Tapi di kebun kopi itu, saya merasa kecil.
Lasmini tidak punya panggung. Tidak ada sorot lampu. Tidak ada kamera.
Tapi ia punya keteguhan yang bahkan tidak semua orang kota miliki.
Ia tidak membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia tidak sibuk mengeluh di media sosial. Ia hanya fokus merawat apa yang ada di tangannya.
Dan mungkin di situlah letak damainya.
Halo, Apa Kabar Kamu Hari Ini?
Sebelum saya pulang, saya kembali bertanya,
“Bu, kalau boleh jujur, apa yang paling Ibu syukuri?”
Ia menjawab cepat,
“Saya masih bisa kerja. Masih sehat. Itu cukup.”
Jawaban yang sederhana, tapi terasa dalam.
Di perjalanan turun dari lereng Magelang, saya bertanya pada diri sendiri—dan sekarang saya bertanya pada kamu yang membaca ini:
Halo, apa kabar kamu hari ini?
Apakah kamu masih mensyukuri hal-hal kecil?
Apakah kamu masih punya mimpi, meski usia terus berjalan?
Apakah kamu masih mau berjuang, meski hasilnya belum tentu besar?
Lasmini tidak terkenal. Namanya mungkin tidak pernah masuk berita nasional. Tapi bagiku, ia adalah pahlawan dalam senyap.
Ia mengajarkan bahwa hidup tidak harus gemerlap untuk bermakna.
Aroma Kopi dan Harapan yang Tidak Pernah Mati
Sore itu, sebelum benar-benar berpisah, Lasmini memberi saya sekantung kecil kopi hasil kebunnya.
“Biar Mas ingat Magelang,” katanya.
Saya tersenyum.
Saya tidak hanya akan ingat Magelang. Saya akan ingat keteguhan seorang perempuan 52 tahun yang memilih untuk tetap berdiri, meski hidup tidak selalu ramah.
Kopi itu mungkin akan habis diseduh. Aromanya mungkin menghilang bersama uap panas.
Tapi cerita Lasmini akan tinggal lebih lama.
Karena di antara kabut lereng dan tanah basah, saya belajar satu hal penting:
Harapan tidak pernah mati selama kita masih mau merawatnya—seperti Lasmini merawat pohon-pohon kopinya.
Tentang Program “HALO APA KABAR KAMU?”
Program ini akan terus berjalan. Saya, KARTO, ingin menyapa lebih banyak orang biasa dengan cerita luar biasa. Petani, nelayan, guru desa, pedagang kecil—mereka semua punya kisah yang layak didengar.
Karena sering kali, inspirasi terbesar tidak datang dari mereka yang paling terkenal.
Ia datang dari mereka yang paling tulus menjalani hidupnya.
Dan hari ini, inspirasi itu bernama: Lasmini, Petani Kopi Magelang.
Jika kamu membaca ini sambil menyeruput kopi, berhentilah sejenak.
Tarik napas. Rasakan aromanya.
Lalu tanyakan pada dirimu sendiri—
Halo, apa kabar kamu?


Komentar0