NEWS PULIH SEKETIKA - Selamet Bejo Tiba-Tiba Jadi Ahli Digital (Padahal Kuota Saja Numpang WiFi Tetangga)
Selamet Bejo kemarin tiba-tiba bijak.
Bukan karena dapat wangsit.
Bukan juga karena ikut seminar.
Tapi karena ia melihat satu fenomena aneh:
Sekarang ini, orang bisa dipuji setinggi langit… atau dicaci serendah kolong kasur… hanya karena jejak digital.
Bejo pun garuk kepala.
“Ini kita hidup di panggung hiburan, atau panggung kehidupan beneran?”
Jejak Digital Itu Apa Sih, Bejo?
Jejak digital adalah semua rekam jejak aktivitas seseorang di internet.
Postingan lama.
Komentar 7 tahun lalu.
Tweet zaman masih pakai alay.
Foto pakai filter kupu-kupu.
Semuanya tersimpan.
Dan anehnya…
Kadang yang paling rajin membuka arsip itu bukan pustakawan. Tapi netizen.
Tokoh Hebat, Tapi Arsipnya Berantakan
Selamet Bejo merenung:
“Kalau seseorang ingin jadi tokoh publik, berarti ia berdiri di atas panggung.”
Nah masalahnya, sekarang panggung itu bukan cuma lapangan atau gedung.
Panggungnya adalah internet.
Kalau jejak digitalnya bagus:
- Konsisten
- Positif
- Tidak merendahkan orang
- Tidak sembrono
Maka orang cenderung percaya.
Tapi kalau jejaknya penuh:
- Amarah
- Sindiran kasar
- Opini tanpa data
- Posting emosional tengah malam
Ya jangan heran kalau suatu hari diputar ulang seperti kaset lawas.
Ini Panggung Entertainment atau Panggung Tanggung Jawab?
Selamet Bejo sempat mengira hidup ini sudah seperti acara reality show.
Semua direkam.
Semua dikomentari.
Semua dinilai.
Tapi kemudian ia sadar.
“Bukan ini panggung hiburan. Ini panggung tanggung jawab.”
Karena ketika seseorang memilih menjadi tokoh:
- Ia bukan cuma membawa nama pribadi.
- Ia membawa pengaruh.
- Ia membawa contoh.
Dan di era digital, contoh itu terekam selamanya.
Jejak Digital = Reputasi Masa Depan
Dulu orang bilang, “Harimau mati meninggalkan belang.”
Sekarang?
“Tokoh viral meninggalkan screenshot.”
Selamet Bejo sampai ketawa sendiri.
Karena benar, reputasi di era digital bukan cuma soal apa yang dilakukan hari ini, tapi apa yang pernah ditulis bertahun-tahun lalu.
Dan internet itu pelupa?
Tidak.
Internet itu seperti emak-emak yang simpan struk belanja lima tahun lalu.
Jadi, Tokoh Tidak Akan Tercela Jika Jejaknya Bersih?
Tidak sesederhana itu.
Manusia tetap bisa salah.
Tetap bisa belajar.
Tetap bisa berubah.
Tapi jejak digital yang baik menunjukkan:
- Konsistensi karakter
- Kedewasaan berpikir
- Kemampuan mengelola emosi
- Etika dalam berbicara
Selamet Bejo bilang,
“Kalau dari dulu sudah rapi, ya orang susah cari celah.”
Bukan karena sempurna.
Tapi karena tidak sembrono.
Personal Branding Itu Bukan Pencitraan Murahan
Banyak orang alergi dengan istilah personal branding.
Padahal personal branding bukan soal pura-pura baik.
Itu soal sadar bahwa setiap tindakan publik punya dampak.
Selamet Bejo pernah menulis status marah karena sinyal lemot.
Untung cuma soal sinyal.
Bayangkan kalau yang ditulis adalah hinaan.
Bisa jadi bom waktu.
Generasi Scroll Harus Generasi Kontrol
Di era media sosial, orang mudah sekali menulis tanpa berpikir.
Padahal satu postingan bisa:
- Menguatkan orang
- Menyakiti orang
- Menginspirasi
- Atau menghancurkan reputasi sendiri
Selamet Bejo sekarang punya aturan:
“Kalau lagi emosi, jangan pegang keyboard.”
Bijak?
Lumayan.
Ini Bukan Panggung Hiburan, Ini Panggung Sejarah Pribadi
Kita mungkin merasa cuma bercanda.
Cuma ngetik.
Cuma komentar.
Tapi di mata internet, itu arsip.
Dan bagi tokoh publik, arsip itu adalah sejarah.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Ini panggung entertainment atau bukan?”
Tapi:
“Kalau suatu hari jadi tokoh, apakah kita siap dengan rekaman masa lalu?”
Kesimpulan Versi Selamet Bejo
Jejak digital yang baik bukan jaminan seseorang sempurna.
Tapi itu bukti bahwa ia belajar menjaga diri.
Karena di zaman sekarang, karakter bukan cuma dinilai dari panggung nyata.
Tapi dari panggung digital.
Dan Selamet Bejo menutup hari itu dengan satu kalimat sederhana:
“Kalau mau jadi tokoh, rapikan jejaknya. Bukan cuma sepatu yang disemir, tapi postingan juga.”


Komentar0